Belum Pulang dari Ambassador
Kota sepertinya lebih sederhana kalau dibaca dari tepinya, misalnya saja sebut Pekayon. Jauh sekali, tapi rasanya dari sana punya rumah masih mungkin. Karena masih banyak tanah kosong. Langitnya juga tidak sesak dengan gedung. Hidup rasanya lebih sederhana dari sini.
Setelah urusanku selesai di Pekayon. Aku pulang memang naik angkutan nomor 18 kalau tidak salah, tapi tidak, Ia tidak membawaku pulang, tapi jalan terus ke Mega Kuningan kadang kadang sampai Tanah Abang. Tapi lebih sering berputar-putar di Mega Kuningan, pintu angkutan itu tertutup. Cuma terbuka saat malam sebelum tidur, dan aku menggelar spanduk bekas partai di depan lampu merah yang bisu di depan Ambassador.
Dan malam ternyata tidak pernah beralih.
Komentar
Posting Komentar