25 April 2020

 Keluargaku keluarga yang tenang-tenang saja. Berhadapan dengan polisi walaupun tak salah tetap saja membuat hati rusuh sekali. "angkat semua bangkunya!" walaupun sudah sebulan kami tutup. Bocah-bocah tengik itu memang bikin masalah, bulan puasa begini dan dimasa virus yang mengancam bisa-bisa nya mereka berkerumun dan menenggak minuman alkohol tidak jauh dari kedai kecil ayahku. Beberapa bocah lari tunggang langgang entah kemana beberapa yang lain ditampar oleh polisi.


Keadaan memang sangat meresahkan akhir-akhir ini, terutama di lingkungan rumahku, yang bisa dibilang tempatnya orang-orang kalah yang bertaruh dengan kota, seperti debu yang sudah berusaha disapu tapi masih tersisa juga karna tak terangkat pengki. Gerobak-gerobak mangkrak dan penjualnya hanya mampu tercenung. Tanpa ada keadaan ini mereka sudah akrap tidur sekedar berselimut sarung dan beralas kardus berbantal baju-bajunya. Ini keadaan yang rasanya memang tak akan habis-habis. Hanya saja aku tak habis pikir, beberapa dari mereka baru saja ditangkap karena berjudi di tengah gelap kuburan. Dan tak ada yang bisa menebusnya selain bos-bos gerobak. Setidaknya hampir semalaman mereka mendekam dan ditebus uang 2 juta rupiah. Memang tak habis pikir, dan setelah itu salah satu dari mereka seperti setengah bingung mampir saat keluargaku makan dengan sederhana dan bertanya, 'sedang makan apa? Apa itu di meja? Jahe hangat? Ayam hangat?" dan sekonyong-konyong diambilnya gelas kosong dan dituangkannya teko itu ke gelasnya.


Tetanggaku yang lain, sudah sebulan makan ubi rebus. 

Komentar